airtronicfirearms.com

Perkembangan AI, antara Membantu atau Mengganti Pekerjaan Manusia

Ilustrasi
Lihat Foto

- Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dikhawatirkan mengancam ketersediaan lapangan kerja.

Sudah muncul kekhawatiran dari sejumlah pihak bahwa AI akan menggantikan pekerjaan-pekerjaan manusia di masa depan.

Berdasarkan survei Forbes Advisor pada 2023, sebanyak 77 persen dari 2.000 pekerja di Amerika Serikat (AS) khawatir AI akan menyebabkan hilangnya pekerjaan dalam setahun ke depan.

Mereka khawatir mereka bahwa AI dapat mengakibatkan hilangnya lapangan pekerjaan dalam waktu dekat.

Studi lain dilakukan oleh McKinsey Global Institute yang mengkaji bahwa AI dapat menggantikan 400 juta pekerja di seluruh dunia.

Laporan McKinsey memperkirakan, antara 2016 sampai 2030, kemajuan AI dapat memengaruhi sekitar 15 persen tenaga kerja global.

Lantas, sampai manakah batas pemanfaatan AI? Apakah AI benar-benar dapat menggantikan pekerjaan manusia sepenuhnya?

Dosen Komunikasi Universitas Indonesia, Firman Kurniawan mengatakan bahwa pengembangan AI idealnya untuk membantu kerja manusia, bukan menggantikan manusia.

"Cuma itu sepertinya sebuah harapan yang tidak mungkin diwujudkan, ketika investor atau orang yang ahli teknologi mengembangkan sesuatu itu kan sampai sejauh apa sih teknologi ini bisa dikembangkan," kata Firman kepada , Senin (10/6/2024).

AI mestinya membantu, bukan menggantikan

AI generatif mengandalkan rumus matematika untuk memproses dan mengidentifikasi pola data dalam jumlah besar guna mengubah perintah pengguna menjadi teks, gambar, video, atau audio.

Namun, kecerdasan manusia jauh melampaui AI yang dapat bekerja melalui pengenalan pola data.

Sehingga secara sederhana, AI tidak dapat begitu saja mengganti pekerjaan manusia.

Permasalahannya, menurut Firman, perkembangan teknologi cenderung membuat manusia semakin malas dan terlalu bergantung.

"Kemudian teknologi dipakai untuk orang menjadi malas. Artificial intelligence akhirnya membuat kita enggak mau pakai kemampuan dan ketika itu ditantang, para pengembangnya bisa menyediakan yang lebih canggih dari itu," ujarnya.

Pada akhirnya, manusia menempatkan teknologi sebagai pelaku dan bukan sebagai pembantu.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat