airtronicfirearms.com

Kisah Haqiqi, Dulu Mahasiswa Kurang Mampu di ITB Kini Punya Puluhan Usaha Pertambangan

Maulana Haqiqi dan istrinya bernama Ulianaci. Haqiqi dulu penerima beasiswa bidik misi atau yang kini bernama KIP Kuliah di ITB. Tetapi kini ia sudah punya banyak usaha pertambangan galian.
Lihat Foto

 - Belum berusia 30 tahun tetapi berhasil memutus rantai kemiskinan. Seperti cerita Maulana Haqiqi, yang memiliki puluhan tambang galian. Dulunya, ia penerima beasiswa Bidikmisi atau yang kini disebut KIP Kuliah Merdeka (Kartu Indonesia Pintar).

Lelaki asli Lumajang, Jawa Timur, itu, tahun 2013 memperoleh Bidikmisi untuk bisa berkuliah di Teknik Pertambangan FakultasTerknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus sebagai sarjana tahun 2017.

Kini anak sulung dari dua bersaudara itu, di usia yang masih 29 tahun, sukses sebagai pengusaha tambang galian C, yakni pasir besi.

Baca juga: Kisah Dimas, Mahasiswa Penjual Dawet, Berhasil Raih IPK 3,84

Area tambangnya tersebar antara lain di Lumajang. Kota Kabupaten yang berada di kawasan tapal kuda Jawa Timur itu memang merupakan daerah penghasil pasir terbesar di Provinsi Jawa Timur dan merupakan salah satu daerah yang banyak terdapat perusahaan tambang pasir yang memiliki IUP (izin usaha pertambangan).

Selain di Lumajang, area tambang yang dimiliki Haqiqi juga tersebar di Ponorogo, Trenggalek, Pasuruan, dan Probolinggo. Usaha tambangnya bernaung dibawah enam badan usaha. Di luar enam badan usaha itu, Haqiqi juga sedang mengurus proses perijinan 16 area tambang lainnya.

Bawa ikan asin saat kuliah, untuk dimakan berbulan-bulan

Dilansir dari laman Puslapdik, Sabtu (11/1/2025) Haqiqi lahir dari seorang ayah yang berprofesi sebagai guru ngaji di sebuah madrasah di Lumajang dengan upah hanya Rp 500.000 per bulan dan ibunya menggarap tani di lahan kecil.

Haqiqi sejak kecil terus berprestasi dan selalu meraih posisi ranking 1. Dengan prestasi itu, biaya pendidikan Haqiqi digratiskan oleh sekolah, bahkan Haqiqi memperoleh biaya kursus dari salah seorang gurunya.

Menjelang lulus dari SMAN 2 Lumajang tahun 2013 lalu, sekolahnya melakukan pemetaan profil siswa untuk mencari siswa yang layak memperoleh Bidikmisi.

“Dicari yang benar-benar dari keluarga sederhana, tapi kemampuannya ada untuk dapat Bidikmisi, dan karena Ayah saya memang dapat dari Madrasah itu Rp.500.000, dan hanya dari sawah, Alhamdulillah masuk kriteria untuk Bidikmisi," ujar Haqiqi.

Baca juga: Jadwal dan Syarat Beasiswa D3-S1 Unhan, Kuliah Gratis Lulus Bisa Jadi TNI

Soal pilihannya ke Prodi Pertambangan, diakui Haqiqi, berawal pengetahuan akan potensi Lumajang dalam hal tambang pasir serta dari keinginannya untuk hidup lebih baik.

Oleh karena itu, dia ingin berkuliah di prodi yang baik dan oleh guru BK disarankan daftar di FTTM ITB.

“Alhamdulillah keterima dan di tahun ke-2, saya memantapkan untuk milih jurusan pertambangan," katanya.

Haqiqi mengenang, saat itu dari Bidikmisi memperoleh biaya hidup Rp 950.000 per bulan. Dalam upaya menghemat pengeluaran, seringkal Haqiqi membawa bekal berupa ikan asin buatan sang ibu dari kampung halaman.

Ia bawa bekal ikan asin banyak dari kampung untuk stok makan berbulan-bulan agar hemat. Di samping itu, tinggal di asrama Sangkuriang milik ITB, Haqiqi tidak perlu bayar, bahkan dapat honor karena menjadi kepala asrama.

Haqiqi juga memperoleh tambahan pemasukan berupa beasiswa Rp 600.000 sebagai pengajar les privat Fisika di Mesjid Salman.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat