airtronicfirearms.com

Dapur Tara Labuan Bajo, Nikmati Kuliner Flores dengan Suasana Alam

Menu makanan di restoran Dapur Tara ditaruh di mangkok yang terbuat dari rotan dan minuman disuguhkan dalam gelas dari bambu dan tempurung kelapa
Lihat Foto

LABUAN BAJO - Di tengah megahnya pembangunan infrastruktur di destinasi super prioritas (DSP) Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), ada satu eco homestay dan restoran yang masih mempertahankan keasliannya.

Dapur Tara adalah namanya. Ibarat kebalikan dari Pariwisata Labuan Bajo yang serba betonisasi, Dapur Tara tetap mengusung konsep berbeda yakni kembali ke alam.

Dari kota Labuan Bajo, Dapur Tara ini berjarak sekitar 20-an kilometer. Wisatawan bisa menempuh perjalanan 20-30 menit. Dapur Tara ini terletak di Kampung Melo, Desa Liang Dara, Kecamatan Komodo.

Baca juga: Pemerintah Upayakan 3 Penerbangan Langsung dari Luar Negeri ke Labuan Bajo

Saat dari Labuan Bajo, sebelum memasuki kampung Melo, di sebelah kanan jalan Trans Flores, wisatawan pasti melihat ada tulisan Dapur Tara. Kendaraan bisa berhenti di depan cabang masuk ke restoran itu.

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Kompas Travel (@kompas.travel)

Dari cabang masuk kamu bisa berjalan kaki. Seperti konsepnya, kembali ke alam, wisatawan bisa berjalan kaki sejauh 500 meter. Namun, jangan ragu, begitu Anda tiba di restoran ini, suasana pasti berubah.

Kembali ke alam

Lelah karena jalan kaki bisa terbayar dengan suasana di tempat ini yang begitu sejuk. Betul-betul kembali ke alam.

Anda akan menikmati kesejukan karena berada di bawah pohon-pohon yang rindang. Uniknya, ada ada aliran sungai kecil di bawah pohon bikin suasana tambah adem. Sejuk, tenang, dan adem, itulah yang akan pengunjung rasakan saat tiba di Dapur Tara ini.

Baca juga: 787.900 Turis China Kunjungi Indonesia pada 2023, Sebagian ke Labuan Bajo

Di Dapur Tara, wisatawan juga disuguhkan kuliner lokal sebagai menu khasnya. Ada nasi bamboo (Kolo), daun ubi campor parutan kelapa (Lomak), dan ayam asap. Ayam asap adalah menu andalan Dapur Tara.

Semua menu makanan disuguhkan menggunakan bahan-bahan sekitar. Piring terbuat dari anyaman rotan dan gelas dari bambu serta tempurung kelapa.

Ayam asap pelala/Roderick Adrian Mozes Ayam asap pelala

Pemilik Dapur Tara, Elisabet Yani Tarubi, mengatakan bahwa selain kuliner lokal, Dapur Tara juga menyiapkan eco homestay, sehingga selain menikmati kuliner lokal dengan suasana alam terbuka.

Para pengunjung juga dapat menginap di Dapur Tara yang di bangun dengan nuansa hutan pedesaan.

Menurut dia, kekuatan utama daya tarik wisatawan datang ke Pulau Flores karena alamnya yang indah dan memesona, sementara arsitektur bangunan modern hanya sebagai pelengkap.

Baca juga: Pengembangan Kawasan Parapuar di Labuan Bajo Terus Diperkuat Penguatan Konten Budaya Manggarai

“Konsep awal membuat Dapur Tara ini, mencoba untuk membangun kehidupan di Flores kembali ke zaman dulu, meskipun tidak semuanya, tetapi kita mencoba dulu bersama komunitas yang ada di sini,” ujar dia.

Ia menyebut, sejak dibuka tahun 2018 hingga kini, ia dan tiga orang karyawannya masih berkebun. Sebab menurutnya, orang Flores identik dengan kebun.

“Kami mengajak tamu mencari kayu api, memasak di dapur, mengambil atau menimba air sehingga saat mereka kembali ke kota ataupun negaranya, mereka jadi merasa lebih bersyukur dengan kehidupan mereka setelah merasakan bagaimana keterbatasan hidup dengan mengandalkan alam seperti yang mereka rasakan saat menginap di Dapur Tara” tuturnya.

 

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat