airtronicfirearms.com

Perang Saudara Sudan Mendekati Level Genosida

Pengungsi Sudan melintasi perbatasan menuju Chad.
Lihat Foto

Penulis: Kersten Knipp/DW Indonesia

KHARTOUM, - Waktu kian mendesak bagi jutaan manusia di Sudan, tulis Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan organisasi kemanusiaan internasional dalam sebuah pernyataan bersama belum lama ini. Ancaman bencana kelaparan meningkat drastis di tengah berkecamuknya perang saudara. 

Sudah sejak setahun silam, negeri di Tanduk Afrika itu terkoyak oleh pertarungan dua jenderal, yang tak segan menghentikan atau membajak pengiriman bantuan kemanusiaan bagi warga sipil.

Bencana terutama mengintai di wilayah Darfur, kata Alice Nderitu, utusan khusus PBB untuk pencegahan genosida. Menurutnya, apa yang terjadi di barat Sudan sudah mencapai dimensi pembersihan etnis, kata Nderitu, dalam keterangan di hadapan Dewan Keamanan PBB, beberapa hari silam.

Baca juga: Dilanda Perang Saudara, Warga Sudan Kini Terancam Bencana Kelaparan

"Kaum sipil diserang dan dibunuh karena warna kulitnya, karena asal usul etnisnya."

Gambaran serupa dilaporkan organisasi kemanusiaan Dokter Lintas Batas (MSF), "Kami melihat dengan mata kepala sendiri pertumpahan darah yang terjadi," kata Claire Nicolet, salah seorang petinggi MSF.

Menurut organisasi yang pernah mendapat Nobel Perdamaian pada 1999 itu, sedikitnya 145 orang dibunuh dan 700 mengalami luka-luka sejak 10 Mei. Saat ini, organisasi bantuan internasional tidak lagi bisa bekerja di lapangan lantaran besarnya risiko serangan bersenjata.

Gawat di Al Fashir

Situasi dramatis dilaporkan di Al Fashir, ibu kota Negara Bagian Darfur Utara. Ke sanalah jutaan warga sipil mencari perlindungan dari perang yang berkobar di pedalaman.

Kota berpenduduk setengah juta jiwa itu masih dikuasai militer Sudan, SAF, di bawah Jenderal Abdel Fattah Al Burhan. Al Fashir merupakan benteng terdepan SAF di tengah kepungan dan serangan berkala tentara Rapid Support Forces (RSF) di bawah Mohamed Hamdan Daglo alias Hemeti.

"Di sana, bencana kelaparan sudah di depan mata," kata Marina Peter, direktur Forum Sudan dan Sudan Selatan, sebuah organisasi kemanusiaan di Eropa. Penaklukan Al Fashir oleh RSF akan memicu gelombang pengungsi baru. Kelangkaan dan inflasi harga bahan pangan juga melanda kota-kota yang dikuasai oleh milisi binaan Hemeti.

"Mereka yang punya sedikit uang, mungkin bisa meninggalkan kota jika mereka beruntung. Tapi kaum miskin akan dibantai," kata Marina Peter.

Baca juga: PBB: Perang Sudan Ancam Hancurkan Seluruh Negeri

Aliansi rapuh

Menurutnya, RSF menggunakan taktik brutal untuk meneror warga sipil agar mau bergabung. "Al Fashir pada dasarnya adalah rantai terakhir yang menyatukan Sudan. Jika direbut RSF, maka Sudan akan terbelah dua, yang berarti bencana secara politis," imbuhnya lagi.

Brutalitas militer Sudan dan RSF membiaskan ketergesaan, menurut analisa lembaga penelitian International Crisis Group (ICG) karena menurut para analis, semakin lama konflik berkecamuk, semakin rapuh pula aliansi yang dijalin kedua jenderal dengan milisi-milisi lokal.

Kerapuhan itu menyulitkan SAF dan RSF untuk mengendalikan milisi-milisi binaan mereka, yang kini semakin leluasa menebar prahara.

"Konflik ini sudah memasuki fase baru yang lebih berbahaya, di mana Sudan semakin tercerai-berai," tulis organisasi yang bermarkas di Brussels, Belgia, itu.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat