airtronicfirearms.com

Hamas dan Jihad Islam Nyatakan Siap Capai Kesepakatan untuk Akhiri Perang Gaza

Seorang pria berjalan di atas puing-puing bangunan yang hancur usai operasi pasukan khusus Israel di kamp Nuseirat di Jalur Gaza tengah pada Sabtu (8/6/2024).
Lihat Foto

DOHA, - Kelompok Hamas dan Jihad Islam pada Selasa (11/6/2024) mengeluarkan pernyataan bersama sebagai tanggapan atas usulan gencatan senjata Gaza dari Israel.

Mereka menyerukan penghentian total terhadap serangan Israel di wilayah Palestina.

“Tanggapan ini memprioritaskan kepentingan rakyat Palestina dan menekankan perlunya penghentian total agresi yang sedang berlangsung di Gaza,” kata Hamas dan Jihad Islam dalam sebuah pernyataan bersama, sebagaimana dilansir AFP.

Baca juga: Isi Usulan Gencatan Senjata Baru dari Israel yang Diumumkan Biden, Terdiri 3 Fase

Mereka lalu menyatakan siap untuk terlibat secara positif untuk mencapai kesepakatan yang mengakhiri perang Gaza.

Amerika Serikat, Qatar dan Mesir telah terlibat dalam negosiasi di belakang layar selama berbulan-bulan mengenai rincian gencatan senjata di Gaza.

Dewan Keamanan (DK) PBB pada Senin (10/6/2024) menyetujui resolusi yang dirancang AS untuk rencana gencatan senjata Gaza.

Usulan itu pertama kali diumumkan oleh Presiden AS Joe Biden pada bulan lalu, untuk memberlakukan gencatan senjata enam minggu dan pertukaran sandera yang katanya ditawarkan oleh Israel.

Qatar dan Mesir pada Selasa malam mengumumkan, bahwa mereka telah menerima tanggapan dari kelompok-kelompok Palestina atas kerangka kerja tersebut.

Mereka kemudian menegaskan upaya mediasi bersama dengan Amerika Serikat akan terus berlanjut sampai kesepakatan tercapai.

Baca juga:

Seorang sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan kepada Kantor berita AFP bahwa tanggapan Hamas berisi amandemen-amandemen terhadap kerangka kerja yang diusulkan.

“Tanggapan itu berisi amandemen terhadap proposal Israel, termasuk jadwal gencatan senjata permanen dan penarikan pasukan Israel sepenuhnya dari Jalur Gaza,” kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya karena sensitivitas perundingan.

 

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat