airtronicfirearms.com

Cerita Warga Difabel di Desa Oben NTT, Terbantu Program "Inklusi" Kemitraan Indonesia-Australia

Kenaz Taebonat (kiri), fasilitator Kelompok Disabilitas Desa (KDD) Desa Oben di Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), saat ditemui dalam kunjungan program Inklusi pada Kamis (27/6/2024).
Lihat Foto

KUPANG, - Australia dan Indonesia berupaya meningkatkan partisipasi penyandang disabilitas dalam pembangunan sosial-budaya, ekonomi, dan politik melalui program Inklusi.

Dimulai pada 2021 dan berlangsung selama delapan tahun hingga 2029, program Inklusi menyokong agenda Pemerintah Indonesia dalam mencapai masyarakat yang inklusif dengan mendukung rencana pembangunan nasional dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Program ini bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi masyarakat sipil untuk memajukan kerja mereka dalam kesetaraan gender, hak-hak penyandang disabilitas, dan inklusi sosial.

Baca juga: Reading Camp, Progam Inovasi Kemitraan Indonesia-Australia di NTT untuk Tingkatkan Literasi Anak

Dengan anggaran 120 juta dollar Australia (Rp 1,3 triliun), program Inklusi bermitra dengan 11 organisasi masyarakat sipil Indonesia, delapan lembaga mitra penelitian, dan jaringan-jaringan yang mereka miliki.

Saat ini, program Inklusi telah berjalan di 32 provinsi Indonesia, tepatnya di 129 kabupaten/kota dan 650 desa.

pada Kamis (27/6/2024) berkesempatan mengunjungi salah satu lokasi program Inklusi, yaitu di Desa Oben, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Yabes Abjena, Kepala Desa Oben di Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, saat ditemui pada Kamis (27/6/2024)./ADITYA JAYA ISWARA Yabes Abjena, Kepala Desa Oben di Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, saat ditemui pada Kamis (27/6/2024).
Kepala Desa Oben yakni Yabes Abjena menjelaskan, desanya terdiri dari 363 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 1.360 jiwa. Beberapa di antaranya adalah kelompok difabel yang terdiri dari disabilitas mental dan fisik.

Elmi Sumarni Ismau, co-founder Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi (GARAMIN) menjelaskan, "Kegiatan pertemuan rutin KDD (Kelompok Disabilitas Desa) ini sejak awal kita bentuk di tahun 2022, bulan Agustus, sebelumnya itu teman-teman ini belum ada kelompok difabelnya. Setelah kita melakukan pembentukan kelompok difabel, ada badan pengurusnya, ada ketua, ada sekretaris, ada wakil, dan ada bendahara juga."

Baca juga: Bersama Program Siap Siaga dari Australia, BPBD NTT Berupaya Tekan Risiko Dampak Bencana

Elmi Sumarni Ismau, salah satu pendiri Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi (GARAMIN), saat ditemui di Desa Oben, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (27/6/2024)./ADITYA JAYA ISWARA Elmi Sumarni Ismau, salah satu pendiri Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi (GARAMIN), saat ditemui di Desa Oben, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (27/6/2024).
Adapun GARAMIN adalah mitra untuk menjalankan program Inklusi di Desa Oben bersama Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia.

"Lalu di dalam pertemuan rutin kelompok ini biasanya teman-teman mendiskusikan setiap kebutuhan dan masalah mereka sehingga pada saat musyawarah dusun biasanya disampaikan ke pemerintah desa."

"Sudah dua tahun ini sudah ada anggaran dana desa untuk kelompok difabel ini," lanjutnya.

Elmi menambahkan, dana desa itu contohnya dipakai untuk pelatihan public speaking.

Arifakzat Nenobais, Ketua Kelompok Disabilitas Desa (KDD) Meu Sine Oben, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), saat ditemui pada Kamis (27/6/2024). /ADITYA JAYA ISWARA Arifakzat Nenobais, Ketua Kelompok Disabilitas Desa (KDD) Meu Sine Oben, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), saat ditemui pada Kamis (27/6/2024).

Difabel Desa Oben bekerja di berbagai bidang

Sementara itu, Arifakzat Nenobais selaku Ketua KDD Meu Sine Oben menerangkan, "Nama kelompok kami difabel (di) Desa Oben (adalah) Meu Sine, dalam bahasa Indonesianya 'terang' (jadi artinya) kelompok terang," ujarnya sembari tersenyum lebar.

Arifakzat melanjutkan, dalam pertemuan rutin setiap bulan biasanya KDD Meu Sine Oben membahas apa saja kegiatan yang telah mereka lakukan di desa, dan rata-rata setiap enam bulan harus didata dan dilaporkan ke pemerintah desa.

"Data kelompok kami bulan ini terbaru... jumlah difabel ada 30 orang, yang perempuan ada 15 orang, laki-laki 15 orang," ungkapnya.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat