airtronicfirearms.com

Rumah Modular Dianggap Lebih Ramah Lingkungan, Mengapa?

Ilustrasi rumah modular.
Lihat Foto

JAKARTA, - Perubahan iklim adalah ancaman serius bagi dan semakin besar terhadap daya saing, kelayakan huni, dan inklusivitas kota-kota di Asia Timur.

Founder SBCC yang juga merupakan Associate Professor Prodi Arsitektur Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Dr. Eng. Beta Paramita menyatakan, kota-kota di Indonesia, Malaysia, dan Filipina terkena dampak urban heat island (UHI) yang paling parah.

"Dengan rata-rata suhu permukaan tanah (Land Surfaces Temperature/LST) hingga 6,6 derajat celcius lebih hangat dibandingkan daerah pedesaan di sekitarnya,” terang Beta dalam keterangan tertulis, Jumat (17/5/2024).

Baca juga: Rumah Modular Diyakini Bisa Jadi Solusi Saat Cuaca Panas

Ilustrasi rumah.UNSPLASH/LISSETE LAVERDE Ilustrasi rumah.

Ia menjelaskan, menurut data Program Lingkungan PBB (UNEP) diperkirakan 40 persen dari konsumsi energi dan sekitar 30 persen emisi gas rumah kaca dihasilkan dari lingkungan binaan.

Pembangunan perumahan merupakan salah satu contohnya. Padahal perumahan adalah tipologi arsitektur beragam yang konfigurasinya ditentukan tidak hanya oleh mereka yang merancangnya tetapi juga oleh pemanfaatan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Oleh karena itu, rumah pada dasarnya adalah struktur yang dapat beradaptasi dan berkembang seiring dengan waktu dan penggunanya, serta mengalami perubahan terus-menerus yang diwujudkan dalam cara hidup.

"Rumah yang dibangun saat ini tidak akan sama dengan rumah yang dibangun besok, sehingga perlu adanya pendekatan kritis dan mendalam terhadap perannya dalam lingkungan binaan," tutur Beta.

Baca juga: 4 Cara Membuat Rumah Ramah Lingkungan

Dia menerangkan, rumah modular secara konsisten menampilkan dirinya sebagai strategi desain dinamis yang telah merevolusi perumahan konvesional, mengembangkan solusi serbaguna untuk ruang dan praktik konstruksi yang berkelanjutan.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat