airtronicfirearms.com

Temuan Fosil Zaman Jurassic Bantu Jelaskan Evolusi Telinga Manusia

Ilustrasi shuotheriid, makhluk kecil seukuran tikus hidup di zaman dinosaurus
Lihat Foto

- Studi fosil dari era Jurassic berhasil memberikan wawasan baru tentang bagaimana mamalia seperti manusia berevolusi, khususnya bagaimana kita bisa memiliki telinga dan gigi seperti saat ini.

Total ada empat fosil berusia lebih dari 164 juta tahun yang diteliti dalam dua penelitian ini.

Baca juga: Fosil Pohon Langka Ungkap Evolusi Tanaman, Seperti Apa?

Semua fosil merupakan fosil mamalia, kelompok yang berisi mamalia dan kerabat terdekat mereka yang telah punah. Dan tiga dari empat fosil merupakan shuotheriids, makhluk kecil seukuran tikus yang hidup satu zaman dengan dinosaurus.

Shuotheriids sendiri telah membingungkan ahli paleontologi sejak tahun 1980-an.

Bentuk gigi mereka tidak sesuai dengan mamalia masa kini sehingga membuat bingung untuk memahami evolusi mamalia.

Hal tersebut, dikutip dari Science Alert, Jumat (12/4/2024), membuat para ahli bertanya-tanya tentang bagaimana mamalia bisa berpindah hidup dari zaman dinosaurus ke era modern, di mana mamalia mendominasi dan bagaimana berbagai cabang evolusi saling terhubung.

“Penelitian kami mempertanyakan teori-teori terkini dan menawarkan sudut pandang baru mengenai sejarah evolusi mamalia,” kata ahli paleontologi Patricia Vickers-Rich, dari Monash University di Australia.

“Kami memberikan wawasan penting mengenai hubungan filogenetik dan lintasan evolusi shuotheriids, yang hanya sedikit diketahui hingga ditemukan baru-baru ini di Tiongkok,” paparnya lagi.

Analisis gigi lebih jauh kemudian mengungkapkan shuotheriids memiliki gigi yang mirip dengan pola geraham sekelompok mamalia lain yang disebut docodontans, yang merupakan cabang awal dari kelompok mamalia yang akhirnya menjadi nenek moyang kita.

Jadi, berdasarkan fosil baru ini, para peneliti berpendapat bahwa shuotheriids seharusnya dikelompokkan lebih dekat dengan docodontans.

Baca juga: Fosil Kulit Paling Awal Ditemukan, Berusia 290 Juta Tahun

"Studi ini menekankan adanya variasi morfologi gigi yang signifikan pada bentuk mamalia awal, menunjukkan adaptasi ekomorfologi yang unik sepanjang perkembangan evolusi mamalia," ungkap Vickers-Rich, dikutip dari Newsweek.

Sementara itu, dari studi fosil telinga pada shuotheriids peneliti mengidentifikasi ciri-ciri utama pada telinga tengah yang membuat mamalia memiliki pendengaran tajam.

Telinga tengah ini diperkirakan berevolusi dari sendi rahang. Namun, fosil yanag rusak dan tidak terawetkan dengan membuat penelitian menjadi sulit.

Kendati demikian, fosil shuotheriids mewakili periode peralihan antara penggunaan sendi rahang untuk makan dan pendengaran sehingga memungkinkan ahli paleontologi mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana telinga mamalia menjadi seperti sekarang ini.

Fosil-fosil baru ini mengungkap adanya mata rantai yang hilang dan memperkaya pemahaman kita tentang evolusi bertahap telinga tengah mamalia,” kata ahli paleontologi Jin Meng dari American Museum of Natural History di New York.

Pemetaan ulang semacam ini membantu menunjukkan bagaimana sifat-sifat berkembang dari waktu ke waktu, secara mandiri atau sinkron, dan dari situlah berbagai tekanan lingkungan yang mungkin berkontribusi terhadap sifat-sifat tersebut.

Penelitian tersebut pun menambah penjelasan tentang bagaimana dan mengapa mamalia berevolusi. Hal ini juga menjadi pengingat bagaimana penemuan fosil baru, dan studi baru terhadap fosil-fosil tersebut, dapat menambah kejelasan misteri evolusi.

Studi dipublikasikan di jurnal Nature.

Baca juga: Kenapa Fosil Dinosaurus Jarang Ditemukan?

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat