airtronicfirearms.com

Laporan PBB Sebut Perdagangan Satwa Liar Ancam 4.000 Spesies Global

Ilustrasi gajah Asia
Lihat Foto

- Sebuah laporan baru mengungkapkan perdagangan satwa liar ilegal dapat mengancam sekitar 4.000 spesies tumbuhan dan hewan secara global.

Upaya internasional yang terkoordinasi selama dua dekade telah berusaha untuk memberantas perdagangan satwa liar ilegal, namun itu tetap menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kelangsungan keberadaan banyak spesies di tengah kerusakan ekologi yang disebabkan oleh manusia.

Baca juga: Studi: Perdagangan Hewan Liar Bawa 75 Persen Penyakit Menular

“Kejahatan terhadap satwa liar menimbulkan dampak buruk yang tak terhitung terhadap alam, dan juga membahayakan mata pencaharian, kesehatan masyarakat, tata kelola yang baik, dan kemampuan planet kita untuk melawan perubahan iklim,” jelas Ghada Waly, Direktur Eksekutif
United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC).

Laporan baru yang dirilis UNODC ini dikumpulkan dari lebih dari 140.000 catatan penyitaan satwa liar yang terjadi di 162 negara dan wilayah antara tahun 2015 dan 2021.

Dari laporan tersebut terungkap, selain beberapa hewan ikonik seperti badak dan gajah, terdapat pula spesies kurang dikenal di dalamnya yang turut menjadi korban dari perdagangan hewan.

Sekitar 3.250 di antaranya terdaftar dalam Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah.

"Korupsi melemahkan regulasi dan penegakan hukum, sementara teknologi mempercepat kapasitas para pelaku perdagangan manusia untuk mencapai pasar global,” tulis laporan tersebut.

Apalagi selama pandemi, sebagian besar perdaganggan satwa liar kemudian beralih secara daring, sehingga makin sulit bagi pihak berwenang untuk melacaknya.

Keinginan orang untuk memiliki hewan peliharaan eksotik pun turut mendorong tumbuhnya perdagangan spesies langka, termasuk laba-laba yang memesona serta membuat meningkatnya permintaan akan reptil.

Baca juga: Pandemi Corona Tekankan Pentingnya Regulasi Perdagangan Satwa Liar

Namun, spesies yang diperdagangkan juga digunakan untuk tujuan lain seperti fashion, obat-obatan tradisional, dan obat-obatan terlarang, contohnya saja katak beracun yang diambil untuk efek psikedeliknya.

Laporan juga menunjukkan bahwa perdagangan satwa liar telah berkontribusi terhadap kepunahan lokal atau global untuk beberapa spesies yang paling terkena dampaknya, seperti anggrek langka, sukulen, dan reptil.

Hal yang perlu diwaspadai juga adalah perpindahan hewan secara ilegal berisiko memfasilitasi penyebaran penyakit yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat.

Ketika ekosistem menghadapi tekanan yang semakin besar akibat polusi hingga perubahan iklim, konsumsi berlebihan melalui perdagangan satwa liar juga membahayakan penghidupan masyarakat dan mendorong kelompok yang paling rentan untuk ikut serta dalam kegiatan ilegal ini.

Laporan ini menyerukan penelitian dan pemantauan lebih lanjut, karena masih banyak hal mengenai perdagangan satwa liar ilegal yang masih belum jelas.

"Penting untuk selalu mengutamakan komunitas masyarakat dan kesejahteraan mereka karena mereka adalah penjaga kekayaan alam dan kita harus meningkatkan kesadaran, bermintra, dan melindungi kepentingan mereka," laporan ini menyimpulkan.

Baca juga: Ahli Lacak Jaringan Perdagangan Gading Ilegal Gunakan Penelusuran DNA

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat