airtronicfirearms.com

Ulat Kenalkan Makanan Kesukaan pada Keturunannya Lewat Darah

Ilustrasi ulat
Lihat Foto

- Banyak ulat yang dikenal karena kesukaan makanannya yang spesifik, yang mereka bawa saat berubah menjadi kupu-kupu.

Misalnya saja kupu-kupu monarch hanya memakan tanaman milkweed.

Baca juga: Yartsa Gunbu, Jamur Ulat yang Harganya Lebih Mahal dari Emas

Dan menariknya preferensi makanan kesukaan ulat ini kemudian juga diwariskan kepada keturunannya.

Contohnya begini. Ketika ulat memakan daun di luar pola makan biasanya, mereka baru menyukai bau jenis tanaman tersebut setelah beberapa hari.

Fenomena serupa juga terlihat di alam ketika ulat menemukan makanan baru saat tidak sengaja bertelur di tanaman yang salah.

Mereka dapat memakannya namun setelah belajar menyukai bau baru tersebut yang semuanya akan diteruskan kepada keturunannya.

Preferensi pola makan yang unik ini lah menjadi perhatian para peneliti di National University of Singapore (NUS).

Seperti dikutip dari Phys, Senin (8/7/2024) pewarisan ini dapat memfasilitasi peralihan inang dan pada akhirnya pembentukan spesies baru yang masing-masing memiliki preferensi makanannya sendiri.

Namun pertanyaannya bagaimana ulat-ulat ini dapat mewariskan preferensi makanan ke keturunannya?

Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku adaptif ini, tim peneliti melakukan percobaan dan menunjukkan bahwa darah ulat yang disebut hemolimfa mengandung faktor yang mendorong pewarisan preferensi bau.

Baca juga: Kupu-kupu dan Ulat Apakah Sama?

Hemolimfa terdapat di otak dan organ reproduksi.

Ternyata darah ulat dapat memediasi pengangkutan faktor-faktor dari otak ke kelenjar seks, sehingga berdampak pada preferensi penciuman pada generasi berikutnya.

Alternatifnya, ia dapat mengangkut faktor-faktor ini dari makanan ke otak embrio pada generasi berikutnya jika dimasukkan ke dalam sel sperma atau sel telur yang menghasilkan embrio tersebut.

"Hal ini sangat mengejutkan bagi kami karena percobaan menunjukkan bahwa mempelajari preferensi terhadap suatu bau dapat terjadi tanpa perlu bau tersebut masuk ke tubuh ulat melalui antena," jelas Antónia Monteiro, yang memimpin tim peneliti studi.

Para peneliti pun berharap untuk mengeksplorasi lebih jauh mekanisme pewarisan preferensi bau dan mengisolasi faktor spesifik yang diwarisi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tim NUS mempublikasikan temuannya di jurnal ilmiah Biology Letters pada 15 Mei 2024.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat