airtronicfirearms.com

Manusia Jadi Penyebab Kepunahan Megafauna, Studi Ungkap

Ilustrasi badak
Lihat Foto

- Setelah dinosaurus punah dari Bumi, planet ini menjadi rumah bagi berbagai jenis hewan raksasa baru mulai dari kungkang, wombat, kanguru raksasa hingga mammoth berbulu.

Namun sekitar 50.000 hingga 10.000 tahun yang lalu, hampir 200 spesies hewan besar (megafauna) itu menghilang selama, hanya menyisakan tulang raksasa mereka. Tidak jelas apa yang akhirnya merenggut nyawa makhluk luar biasa ini.

Baca juga: Megafauna Australia, Wombat Raksasa Pernah Hidup 80.000 Tahun Lalu

Saat ini hanya tersisa 11 spesies hewan raksasa yang terus menyusut ukurannya, termasuk di antaranya adalah badak, gajah, dan kuda nil.

Lalu apa yang menyebabkan kepunahan megafauna ini?

Seperti dikutip dari Science Alert, Kamis (4/7/2024) penurunan drastis ini menurut peneliti tidak hanya disebabkan oleh perubahan iklim sebagai satu-satunya faktor kepunahan. Di mana menurut peneliti sebagian besar megafauna ini masih bisa beradaptasi terhadap lingkungan yang memanas.

“Hilangnya megafauna secara besar-besaran dan sangat selektif selama 50.000 tahun terakhir merupakan hal yang unik selama 66 juta tahun terakhir," kata ahli makroekologi Jens-Christian Svenning dari Universitas Aarhus di Denmark.

Periode perubahan iklim sebelumnya tidak menyebabkan kepunahan selektif dalam skala besar, sehingga hal ini bertentangan dengan peran besar iklim dalam kepunahan megafauna.

“Pola penting lainnya yang menentang peran iklim sebagai penyebab kepunahan adalah hilangnya megafauna terjadi di wilayah yang iklimnya stabil sama parahnya di wilayah yang tidak stabil,” terang Svenning.

Studi baru pun dilakukan untuk mengungkap penyebabnya dengan melakukan tinjauan komprehensif yang mencakup lokasi, waktu kepunahan, preferensi habitat dan makanan, perkiraan ukuran populasi, bukti perburuan manusia, pergerakan populasi manusia, serta data iklim dan vegetasi sejak jutaan tahun yang lalu.

Baca juga: Megafauna Papua Nugini Bertahan Hidup Hingga 20.000 Tahun yang Lalu

Kita tahu bahwa manusia hidup berdampingan dengan megafauna, dan kita punya bukti adanya beberapa spesies yang diburu hingga punah. Kita tahu nenek moyang kita mampu berburu hewan besar secara efektif.

“Manusia modern awal adalah pemburu yang efektif bahkan terhadap spesies hewan terbesar dan jelas memiliki kemampuan untuk mengurangi populasi hewan besar,” kata Svenning.

Di sisi lain, hewan-hewan besar ini sangat rentan terhadap eksploitasi berlebihan karena mereka memiliki masa kehamilan yang lama, menghasilkan keturunan yang sangat sedikit, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai kematangan seksual.

Penelitian baru ini kemudian menemukan bahwa pemburu manusia cukup efektif dan berkontribusi signifikan terhadap banyak kepunahan.

Faktanya, eksploitasi mammoth, mastodon, dan kungkang raksasa cukup konsisten di mana pun manusia berada.

Ini juga sekaligus bisa menjawab mengapa mammoth terakhir bisa bertahan di Pulau Wrangel, ya karena tidak ada manusia di sana.

Ini menjadi temuan yang penting mengingat megafauna yang bertahan saat ini makin berkurang akibat eksploitasi manusia seperti yang ditemukan dalam sebuah penelitian pada tahun 2019.

Baca juga: Studi DNA Ungkap Kepunahan Megafauna Mastodon Amerika

Sekitar 98 persen spesies megafauna yang terancam punah berisiko punah karena orang tidak berhenti memburunya.

“Hasil kami menyoroti perlunya upaya konservasi dan restorasi aktif. Dengan memperkenalkan kembali mamalia besar, kita dapat membantu memulihkan keseimbangan ekologi dan mendukung keanekaragaman hayati," tambah Svenning.

Penelitian ini telah dipublikasikan di Cambridge Prisms: Extinction.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat