airtronicfirearms.com

Apakah Perubahan Iklim Membuat Gempa Bumi Sering Tejadi?

Ilustrasi gempa
Lihat Foto

- Meski kita bisa memprediksi kapan bencana besar akan terjadi, namun itu pun dapat muncul secara tiba-tiba.

Salah satunya adalah gempa bumi. Itu merupakan salah satu bencana alam yang misterius dan juga menakutkan.

Baca juga: Bukti Gempa Bumi Paling Awal Ditemukan di Afrika

Pertanyaannya, apakah gempa bumi bisa dipengaruhi oleh faktor lain, seperti misalnya perubahan iklim, yang kemudian dapat membuatnya menjadi lebih sering terjadi?

Seperti dikutip dari Live Science, Rabu (10/7/2024) jenis gempa terbesar dan paling berbahaya adalah gempa tektonik.

Gempa bumi ini terjadi karena pergerakan lempeng tektonik yaitu lempengan batuan masif yang menyusun kerak bumi dan mantel atas.

Panas yang berasal dari dalam planet menyebabkan lempeng tersebut bergerak rata-rata 1,5 sentimeter per tahun. Hal tersebut menyebabkan lempeng-lempeng bergesekan satu sama lain.

Tekanan di wilayah tersebut meningkat hingga mencapai titik puncaknya di mana lempeng akan bergerak secara tiba-tiba, melepaskan energi yang menyebabkan gempa bumi.

Hampir tidak mungkin untuk memprediksi kapan gempa bumi akan terjadi, sehingga evakuasi terencana hampir tidak mungkin dilakukan.

Dan sayangnya, menurut ahli perubahan iklim dapat membuat gempa terjadi dengan intensitas yang lebih sering.

Pemanasan global membuat gletser mencair dengan kecepatan yang luar biasa.

Baca juga: Ukurannya Menyusut, Bulan Jadi Rentan Tanah Longsor dan Gempa

"Ketika air gletser yang mencair mengalir dari daratan dan menuju laut, daratan yang dulunya berada di bawahnya akan naik," kata John Cassidy, ahli seismologi gempa di Survei Geologi Kanada dan Universitas Victoria.

Jika hal ini terjadi, perbedaan tekanan dapat menyebabkan patahan yang sebelumnya tidak aktif tiba-tiba meledak sehingga menimbulkan gempa bumi.

Yang lebih memprihatinkan dibandingkan gempa bumi akibat pencairan gletser adalah gempa bumi yang mungkin disebabkan oleh kenaikan permukaan air laut.

"Saat permukaan air laut naik, tekanan di bawah air di dasar laut juga meningkat. Ketika tekanan air meningkat, tekanan pada garis patahan di dekat pantai juga akan meningkat," kata Marco Bohnhoff, ahli geofisika di GFZ Helmholtz Center Potsdam dan Free University Berlin di Jerman.

Artinya, sedikit peningkatan tekanan sudah cukup untuk mempercepat siklus seismik yang dapat memicu gempa bumi.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat