airtronicfirearms.com

Komnas Perempuan Desak Pemda Ganti Nama Aplikasi Bernuansa Seksisme

Tangkap layar aplikasi dan situs pemerintah daerah yang diberi nama saru atau jorok
Lihat Foto

- Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, Andy Yentriyani mendesak pemerintah daerah mengganti nama aplikasi yang bernuansa seksisme.

Menurutnya, nama-nama sejumlah aplikasi tersebut berkonotasi seksual, bahkan cenderung mengarah pada objektifikasi perempuan.

“Pada nama-nama yang berkonotasi seksual, Komnas Perempuan mendorong pada pemerintah daerah untuk melakukan perubahan,” kata Andy, saat dihubungi , Kamis (11/7/2024).

Selain itu, Komnas Perempuan juga meminta pemerintah perlu menjelaskan cara membaca dan mengungkap arti dari aplikasi yang menggunakan bahasa lokal.

Ia menyebutkan, salah satu contohnya kasus pembuatan akronim aplikasi Sistem Pelayanan Program Penanggulangan Kemiskinan dan Jaminan Kesehatan atau Sipepek dari Pemkab Cirebon, Jawa Barat.

Pasalnya, akronim tersebut memiliki dua cara baca dan arti berbeda, meski penulisannya sama (homograf).

Baca juga: Nama Aplikasi Bikinan Pemda Bernuansa Seksisme, Pengamat: Objektifikasi Perempuan dan Tak Relevan

Dalam bahasa Cirebon, "pepek" disebut memiliki arti lengkap. Namun, kata itu di daerah lain memiliki pelafalan dan makna yang berbeda, salah satunya merujuk pada organ kewanitaan.

"Kasus Sipepek baik untuk memperkenalkan istilah-istilah dalam tata bahasa ini, maupun untuk memperkenalkan khazanah kebhinekaan bahasa ibu di Nusantara," ujar dia.

"Tetapi, pihak pemerintah daerah juga perlu memberikan info terkait cara membaca dan arti dari kata yang digunakan di website atau aplikasi tersebut," sambungnya.

Baca juga: Nama Aplikasi Mirip Kelamin Wanita, Ini Penjelasan Pemkab Cirebon

Cerminan wibawa pemerintah daerah terkait

Terpisah, Wakil Ketua Komnas Perempuan Mariana Amiruddin menilai, nama-nama aplikasi atau program tersebut mencerminkan wibawa pemerintahan daerah sendiri.

"Pilihlah sebutan yang menunjukkan wibawa, misal nama-nama program yang pernah kita kenal," ujarnya, Kamis.

Menurutnya, sejumlah aplikasi dengan nama, seperti Simontok dan Sisemok jelas ditujukan untuk objektifikasi perempuan.

“Pakailah bahasa Indonesia atau kearifan lokal yang mengandung unsur kebijaksanaan dan mengekspresikan kewibawaan,” jelas dia.

Mariana mencontohkan, beberapa nama program yang bisa dijadikan rujukan di antaranya Nawacita, Sakti, dan Srikandi yang punya makna mendalam sekaligus bisa mengekspresikan kebijaksanaan pemerintah.

Baca juga: Nama Aplikasi Simontok Dinilai Tak Sopan, Pemkot Solo: Kita Tidak Berpikiran Jorok, Itu agar Mudah Diingat

Ramai soal aplikasi bernuansa seksisme

Sebelumnya, media sosial diramaikan dengan perbincangan mengenai nama singkatan sejumlah aplikasi buatan sejumlah pemerintah daerah (pemda) yang tak relevan dan bernuansa seksisme.

Misalnya, aplikasi buatan Pemkot Surakarta diberi julukan "Simontok" (Sistem Monitoring Stok dan Kebutuhan Pangan).

Ada juga "Sisemok" (Sistem Informasi Organisasi Kemasyarakatan) dari Pemkab Pemalang, serta "Sipepek" (Sistem Pelayanan Program Penanggulangan Kemiskinan dan Jaminan Kesehatan) dari Pemkab Cirebon.

Selain itu, masih ada "Siska Ku Intip" (Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi Berbasis Kemitraan Usaha Ternak Inti Plasma) dari Pemprov Kalimantan Selatan, dan nama-nama yang dianggap problematik lainnya.

Tak hanya aplikasi, program dari beberapa pemerintah daerah juga mempunyai nama yang patriarkis, seperti "Mas Dedi Memang Jantan" (Program Masyarakat Berdedikasi Memperhatikan Angkatan Kerja Rentan) dari Pemkot Tegal.

Baca juga: Beberapa Aplikasi Pemerintah Bernama Nyeleneh, Ahli IT: Tak Sesuai Etika Profesi

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat